Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2017

Hakikat Pendidikan dan Kehidupan

A.       Pendidikan dan Kehidupan 1.       Ilmu, Pengetahuan, dan Ketrampilan Manusia sejak lahir dibekali akal untuk berpikir. Bahkan sejak masa kandungan manusia sudah mendapat “pendidikan”, yaitu melalui ibu nya secara lahiriah dan batiniah. Misalnya, bagaimana ibu memberitahu janin tentang apa saja melalui berdialog, bagaimana ibu atau ayah membacakan doa-doa, kalimat-kalimat, nada-nada/ bunyi pada si janin. Ini artinya pendidikan menjadi aspek sangat penting, Kebutuhan pendidikan sangat penting bagi manusia untuk menjadi manusia seutuhnya-sebenarnya . Melalui pendidikan alamiah, pembiasaan, hingga pendidikan terstruktur maka janin dan bayi hingga remaja, dan dewasa mengalami perkembangan otak, mental, fisik sesuai hukum perkembangan. Manusia menjadi ber-ilmu dan ber-pengetahuan setelah mampu menggunakan fungsi panca inderanya, serta organ tubuh lainnya. Ini setelah manusia mampu menggunakan akal pikiran, perasaan, kehendak dalam menjalankan - mempertahankan-melanjutkan-hidu

Manusia, Rasionalitas, dan Kehidupan

1.       Hakikat Kehidupan Sebagai manusia yang dibekali akal, manusia selayaknya mampu berpikir tentang adanya kehidupan yang secara logis ada yang menciptakan. Pencipta pasti berbeda dengan yang diciptakan karena “pencipta” haruslah memiliki kemampuan atau kekuatan yang lebih dari yang diciptakan. Ketika manusia menyadari bahwa usia manusia berbatas, karena ada kematian yang wajib hukumnya bagi manusia, maka manusia secara logis pun akan dituntun untuk berpikir tentang “kehidupan setelah kematian”. Saya percaya tentang kehidupan setelah kematian, karena saat itulah manusia akan mendapatkan buah dari apa yang dilakukan dari kehidupan sebelumnya, yaitu dunia. Dengan demikian, kehidupan di dunia haruslah secara bersama-sama bertujuan untuk kehidupan akhir (selanjutnya). 2.       Manusia, Rasionalitas, dan Kehidupan Jika manusia dapat menyadari sebagai manusia, menyadari asal dan tujuan hidup maka manusia akan berpikir untuk bagaimana menjalani kehidupan sekarang (hidup) sehing

Hakikat Manusia

1.       Hakikat Manusia Teringat pelajaran SD, “Apa cita-citamu? Menjadi manusia yang berguna bagi orang tua, keluarga, nusa dan bangsa, serta agama”. Berguna seperti apa yang diperlukan? Sering saya pun bertanya, untuk apa saya dilahirkan? Mengapa saya dilahirkan ke dunia? Pertanyaan-pertanyaan itu sering saya tanyakan dalam hati seiiring perkembangan fisik, emosional, dan kognitif. Saya merasa memiliki tujuan hidup yang jelas setelah melalui proses pencarian jati diri, mengungkap siapa saya dan hakekat Tuhan. Kata kuncinya adalah menyadari, mengingat, dan merasakan. Saya menyadari sebagai “hamba” Allah, Tuhan yang saya percayai telah menciptakan kehidupan dan isinya. Allah SWT sebagai Dzat yang Mutlak Wujudnya, yang Awal dan Akhir. Dia yang paling berhak atas semua yang ada atas ciptaanNya. Saya menyadari bahwa saya berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah. Tidak bisa apa-apa tanpa Cinta dan KasihNya, tanpa Kehendaknya. Karena itulah sebagai manusia, maka saya secara lo